Nama : PrananingMeisya M.
NPM : 15410226
KELAS : 3E/ PBSI
Pementasan Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah
Oleh Prananing Meisya Mayadah
Semarang-
Universitas PGRI Semarang pada hari Selasa, 4 Oktober 2016 mengadakan
pementasan drama dan monolong yang diadakan oleh UKM teater gemma Universitas
PGRI Semarang yang berjudul “Pementasan Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada
Sumarah” sangat menyita perhatian Mahasiswa Upgris. Tidak hanya mahasiswa
Upgris yang tertarik dengan pementasan
tersebut akan tetapi pementasan tersebut juga menyita di kalangan siswa-siswi
SMA. Salah satu SMA yang hadir dalam pementasan tersebut adalah SMA 1 Grising.
Pementasan tersebut diadakan dua season, season peratama diselenggarakan pukul
15.00 WIB, dan season kedua dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB. Setiap season
selalu dipenuhi oleh mahasiswa maupun penonton yang ingin melihat pementasan
tersebut, hingga saat hendak memasuki ruangan pementasan harus berdesak-desakan
terlebih dahulu. Ketika semua penonton sudah memasuki ruangan dan pementasan
dimulai semua berjalan dengan teratur. Penonton sangat terhibur dengan
pementasan tersebut. Setiap seasionnya terdapat dua penampilan. Penampilan
pertama yaitu pementasan drama Jaka Tarub, dan penampilan yang ke dua yaitu
monolog Balada Sumarah.
Pada
penampilan pertama menceritakan Jaka Tarub.Pada penampilan ini diceritakan seorang
pemuda yang
bernama Jaka Tarub
mencuri selendang bidadari
yang bernama NawangWulan
dan Nawang Wulan tersebut tidak dapat kembali kekakayangan.
Sehingga JakaTarub dan
Nawang Wulan menikah dan dikaruniyai
seorang putrid cantik
yang bernama Nawangsih.Dalam pementasan tersebut tata kejadiannya sangat menarik,
karena cerita awalnya
dimulai dengan Jaka Tarub
yang sudah tua dan
ia bermimpi akan kehilangan putrid semata wayangnya yang
bernama Nawangsih itu, lalu
Nawangsih keluar dan menanyakan
kepada sang
ayah “adaapa ayah? Ayah mimpi apa?”,
Jaka Tarub tidak dapat menjawab pertanyaan
sang putri. Dalam cerita
Jaka Tarub ini menggunakan alurmundur. Pada saat Jaka Tarub tidur dan mimpi penonton dibuat penasaran oleh mimpi Jaka Tarub.
Kemudian
penataan lampu ketika Jaja Tarub
di masa tua dia tertidur
dengan sinar bulan purnama,
dan tiba-tiba lampu yang menyoroti Jaka Tarub redup.Ketika cahaya lampu nyala kembali kejadian sudah berubah menjadi Jaka Tarub
di masa muda, di situ diceritakan masa muda
Jaka Tarub dan
kejadian bagaimana Jaka Tarub bertemu dengan Nawang Wulan.
Penataan dekorasi sudah sangat memadai. Untuk soal makeup kurang
mendukung karena untuk makeup pemain
pria itu terlalu berlebihan,
dan untuk makeup perempuan
(bidadari) tidak sesuai dengan zamannya, itu terlalu berlebihan. Dalam pementasan tersebut tidak diceritakan kesaktian apa saja yang
dimiliki JakaTarub, menurut
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub
disitu dejalaskan bahwa JakaTarub memiliki kesaktian,
alangkah lebih baiknya
jika dalam pementasan tersebut disertakaan kesaktian yang
dimiliki JakaTarub sehingga
cerita tersebut lebih
menarik. Pada saat diceritakannya ketujuh bidadari itu turun kebumi untuk mandi di telaga tiba-tiba salah satu
bidadari itu terjatuh dari tangga yang dibuat seolah-olah ketujuh bidadari itu sedang terbang. Pada saat salah satu bidadari itu jatuh dari tangga keenam bidadari itu langsung tanggap menolong pemain bidadari yang terjatuh,
kejadian tersebut terkesana
lami dan tidak seperti dibuat-buat,
entah kejadian tersebut
sudah termasuk dalam scenario atau memang murni kecelakaan. Semua penonton terpukau sekaligus bingung apakah kejadian
itubenar-benar jatuh atau sudah masuk dalam
scenario.
Ketika Jaka Tarub sudah menikah dengan Nawang Wulan,
untuk menyambung cerita
ketika Nawang Wulan hamil, di tengah-tengah penampilan
di isi oleh dagelan pemerannya bernama tomo dan topo. Kedua laki-laki tersebut melakukan dagelan dengan cerita ingin mencalon sebagai kepala desa. Penonton sangat terhibur dengan penampilan Tomo dan Topo. Penampilan mereka berdua membuat suasana di
ruangan semakin riang
dan riuh oleh suara tawa para penonton. Sebetulnya kehadiran Topo
dan Tomo tidaklah
sangat penting bagi cerita Jaka Tarub,
karena tidak ada
kaitannya dengan cerita Jaka Tarub. Akan tetapi kehadiran Topo
dan Tomo dapat
menjembatani berapa tahun Jaka Tarub dan Nawang Wulan menikah sehingga NawangWulan sudah hamil,
seperti contoh di televise
untuk mempersingkat waktu biasanya ada teks
yang bertuliskan “lima tahunkemudian” dalampementasantersebutteks yang
bertuliskan “lima tahunkemudian” digantikanolehperan Topo danTomo, sehingga penonton tidak bingung
di karenakan tiba-tiba
Nawang Wulan hamil.
Dalam cerita tersebut juga
diceritakan kalau Jaka
Tarub melihat istrinya memasak nasi hanya menggunakan seikat padi,
tetapi menurut https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub
diceritakan
kalau Nawang Wulan memasak dengan satu biji beras, ini masih belum jelas kebenarannya.
Ketika Jaka Tarub
menggendong anaknya cara menggendong anaknya itu tidak tepat karena dalam kejadiannya tata
cara menggendong anak yang
dilakukan Jaka Tarub
maka Anak tersebut akan terjatuh dan merasa tidak nyaman ketika digendong.
Dalam pementasan tersebut juga
tidak dijelaskan sampai
akhirhanya diceritakan sampai Nawang Wulan kemabali kekayangan. Menurut https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub
diceritakan
sampai Nawangsih menikah.
Sebenarnya pementasan tersebut sudah berjalan dengan baik, akan tetapi ada bagian-bagian
yang kurang dan harus
diperbaiki.
Tata lampu menyesuaikan dengan
penampilan pemainnya.
Penampilan kedua yaitu monolog
Balada Sumarah. Cerita
dimulai dengan tokoh
yang bernama Sumarah di siding di
Negara Arab. Pada
saat itu penonton tidak tahu permasalahan
yang dialami oleh
tokoh Sumarah. Kejadian tersebut samahalnya dengan pementasan Jaka Tarub yaitu sama-sama menggunakan alur mundur.
Lalu diceritakan kalau Sumarah adalah anak dari seseorang yang
menjual gula di
koperasi PKI. Akan tetapi teman-teman dan tetangga Sumarah menganggapnya kalau dia adalah anak dari seorang PKI yang
dibenci oleh masyarakat.
Sumarah sedih karena ia selalu dihubungkan dengan seorang anak PKI.
Untuk menghilangkan nama
baiknya ia pergi keluar negeri dan dia menjadi TKW yang
tidak pernah dibayar
oleh majikannya dan dia diperkosa oleh majikannya. Sumarah yang
kesal akhirnya membunuh
majikannya dan dihukum mati. Dalam cerita tersebut Sumarah tidak membuntuhkan pembelaan siapapun karena dia yakin tidak ada
yang membelanya bahkan Negara asalnya pun tidak mau membelanya.Pemeran Sumarah sangat
baik dalam memainkan perannya. Penampilan sangat memukau penontonnya. Tata lampu maupun dekorasi sudah mendukung berjalannya
monolog. Ekspresi yang
ditimbulkan sesuai dengan yang diperankannya,
pemainsudahtepatdalammenempatkanekspresidangesturtubuhnya.
Jadi dengan adanya pementasan tersebut mengingatkan kembali adanya sejarah yang
sangat terkenal di
Negaraini. Sebagai masyarakat
Indonesia khususnya masyarakat sekitar harus lebih memperkenalkan lagi cerita-cerita legenda di sekitarkita.Suapaya kelak generasi penerus tetap mengetahui legenda-legenda
di sekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar