Selasa, 20 Desember 2016

Esai Bedah Buku



Nama: Prananing Meisya M.
NPM: 15410226
Kelas: 3E/ PBSI
Bedah Buku Karya Triyanto Triwikomo
Oleh Prananing Meisya Mayadah
Launching Gebyar Bulan Bahasa baru saja diselenggarakan di Balairung Universitas PGRI Semarang pada hari Rabu, 19 Oktober 2016. Setiap satu  tahun sekali, khususnya pada bulan Oktober Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni selalu memperingati bulan bahasa dengan berbagai macam acara. Acara tersebut melibatkan dosen FPBS dan Mahasiswa FPBS. Tetapi untuk tahun ini peringatan bulan bahasa tidak hanya melibatkan  keluarga FPBS melainkan melainkan juga melibatkan seluruh mahasiswa UPGRIS.
Sebelum menuju puncak acara bulan bahasa, terdapat berbagai macam serangkaian acara. Serangkaian acara tersebut yaitu lomba antar siswa se Jawa Tengah, lomba antar mahasiswa se Jawa Tengah, seminar nasional, dan acara puncak bulan bahasa. Lomba antar siswa se Jateng terdiri dari lomba pidato, dan lomba festival lagu nusantara yang diselenggarakan pada hari Selasa, 25 Oktober 2016. Lomba antar mahaiswa se Jateng terdiri dari lomba pidato yang diselenggarakan  pada hari Kamis, 20 Oktober 2016, dan lomba stand up comedy yang diselenggarakan pada hari Selasa, 18 Oktober 2016, pada saat yang bersamaan dengan lomba stand up comedy di tempat yang berbeda juga diselenggarakan seminar nasional. Sedangkan puncak bulan bahasa diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Oktober 2016 tepat sehari sebelum sumpah pemuda.
Meninggalkan serangkaian acara bulan bahasa yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang, tepat pada tanggal 19 Oktober bertempat di balairung UPGRIS sedang berlangsung Launching Gebyar Bulan Bahasa. Dalam acara tersebut akan membedah buku karya Triyono Triwikomo. Acara tersebut menyita perhatian mahasiswa maupun dosen UPGRIS.
Rangkaian acara tersebut yaitu pembukaan yang dipandu oleh Ibu Dyah. Selanjutnya penampilan-penampilan dari mahasiswa maupun dosen UPGRIS. Dalam acara tersebut turut hadir Rektor Universitas PGRI Semarang beserta jajarannya, dan tak lupa turut hadir pula pengarang buku yang akan dibedah yaitu Triyono Triwikomo.
Gemuruh tepuk tangan penonton terdengar ketika Triyono Triwikomo menyapa tamu yang hadir dan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut. Tidak kalah meriah pula gemuruh tepuk tangan dan teriakan para tamu undangan dan mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut ketika Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum. menyapa mereka semua. Tampaknya mereka bangga akan kedua lelaki yang baru saja menyapa para hadirin.
Acara Launching Bulan Bahasa diberi judul, “Bedah Buku Karya Triyono Triwikomo. 3 Buku, 3 Pembaca, 3 Kritikus, dan  1Pengarang.” Ketiga buku yang akan di bedah karya Triyono Triwikomo yaitu buku yang berjudul, Bersepeda ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesaat Pikir Para Binatang.
Dalam  acara tersebut juga terdapat pembacaan puisi. Pembacaan puisi yang pertama dibacakan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum. Beliau tidak hanya membaca puisi. Beliau juga bernyani dan bermain gitar sehingga membuat para hadirin tambah kagum dengan Rektor UPGRIS ini. Pembacaan puisi yang kedua yaitu dibacakan oleh wakil Rektor satu yaitu Dra. Sri Suciati, M.Hum. Beliau tidak mau kalah dengan Rektor UPGRIS. Maka dari itu beliau tidak hanya membaca puisi melainkan beliau juga bernyanyi lagu daerah dengan menggandeng salah satu mahasiswa UPGRIS Prodi Pendidikan Bahasa Inggris untuk menemaninya bernyanyi di atas panggung. Suara beliau tidak kalah bagus dengan Rektor UPGRIS sehingga beliau juga mendapat tepukan yang meriah dari para hadirin.
Selain pembacaan puisi, juga terdapat musikalisasi dari grup yang diberi nama biscuittime. Biscuittime baru saja merilis album pada hari Jumat, 21 Oktober 2016. Anggota dari biscuittime terdiri dari tiga orang alumni UPGRIS dan alumni UKM Kias di UPGRIS. Pembawaan musikalisasi oleh biscuittime dapat terbilang bagus sehingga menyita perhatian para hadirin. Sampai berkali-kali biscuittime naik-turun panggung untuk memenuhi keinginan hadirin untuk membawakan musikalisasi puisi.
Selain itu terdapat pula orasi. Ada tiga pembicara yang menyampaikan orasi tersebut. Ketiga acara tersebut yaitu Dr.  Nur Hidayat, Drs. S. Prasetyo Utomo, M.Pd., dan Widyanuri Eko, S.Pd. setiap pembicara menyampaikan orasinya masing-masing.
Dalam bedah buku tersebut seorang dosen yang begitu hebat yaitu Dr. Harjito, M.Hum, dipercaya untuk membawakan acara bedah buku tersebut. Dalam membawakan acara beliau sudah cukup bagus akan tetapi beliau terlihat frontal dalam menyampaikan menit terakhir kepada pembicara. Hal tersebut terdengar agak mengganggu. Alangkah lebih baik jika menit terakhir pembicara dilakukan dengan hanya memberi kode kepada pembicara.
Sebenarnya acara tersebut terlihat cukup menarik. Akan tetapi pada saat pembicara menyampaikan orasi terlihat monoton, karena tidak ada interaksi antara pembicara dengan hadirin. Pada saat itu para hadirin nampak bosan, ngantuk, bahkan berbicara dengan teman disampingnya. Jika ada interaksi antara pembicara dan hadirin maka hal tersebut tidak akan terjadi.
Penutupan acara tersebut Triyono Triwikomo diminta naik panggung untuk menyampaikan  sesuatu kepada hadirin. Setelah beliau menyampaikan sesuatu kepada para hadirin, dilanjutkan dengan foto bersama dengan Rektor Universitas PGRI Semarang, pembawa acara, tiga orang yang membawakan orasi,  dan segenap dosen panitia bulan bahasa.

Balasan Surat



Nama: Prananing Meisya M.
NPM: 15410226
Kelas: 3E/ PBSI
Balasan Surat Untuk Bapak Setia Naka A.
Selamat malam Pak Naka dosen mata kuliah Penulisan Media Massa kelas 3E PBSI yang saya hormati.
Untuk mengenai kabar saya, Alhamdulillah kabar baik untuk hari-hari saya yang sudah lewat sampai hari-hari ini pun kabar saya masih baik. Suka-duka, canda-tawa, tangis-ceria, dan apalah semacam itu saya lalui dengan hati yang ikhlas, ya InsyaAllah saya lalui dengan hati yang ikhlas bersama keluarga dan teman-teman saya.
Ketika salah satu teman saya memberitahukan bahwa bapak tidak dapat hadir dan tetap masuk kuliah untuk mengambil tugas serta presensi saya merasa biasa-biasa saja. Saya pikir tugas yang diberikan kepada kami yaitu seperti tugas-tugas biasanya, ya semacam esai gitu. Tetapi ketika tugas tersebut saya terima ternyata itu adalah surat dari bapak. Saya sempat bingung karena tidak sesuai dengan dugaan. Ketika surat tersebut sudah saya terima, saya bertanya-tanya apa ya isi surat ini? Pada saat itu pula teman saya berkata “surat balasan untuk pak Naka dikumpulkan besok” saya terkejut mendengar perkataan teman saya itu. Saya berpikir kok ya cepat sekali balasan surat ini dikumpulkan, saya kan juga butuh inspirasi untuk membalas surat dari bapak. Kalau deadlinenya terlalu cepat lalu saya tidak tahu apa yang harus saya balas. Untung saja komting kelas saya memberitahu bahwa balasan surat dari bapak dikumpulkan saat ada kuliah dengan Bapak. Saya merasa lega karena saya mendapatkan waktu beberapa hari untuk membalas surat bapak, ya meskipun menurut bapak surat ini terlalu alay kali ya.
Bapak tidak perlu menyesal karena tidak dapat menghadiri perkuliahan di kelas kami. Meskipun bapak tidak dapat hadir kami tetap mendapatkan tugas, jadi ya istilahnya perkuliahan tersebut tidak bemar-benar kosong. Saya sempat bingung kok bapak naik pesawat tetapi berangkatnya dari stasiun poncol dan  mendarat di stasiun senen pukul 20.00. Apa sekarang sudah berganti ya, kalau kereta api sudah berubah nama menjadi pesawat, pesawat berubah nama menjadi bus, bus berubah nama menjadi kapal laut, dan kapal laut berubah nama menjadi kereta api? Ya entahlah ya, saya tidak memperdulikan itu karena tidak ada untungnya buat saya. Yang terpenting bapak sampai tujuan dengan selamat.
Kalau saya berpikir, bapak sangat beruntung karena bapak dapat menghadiri musyawarah sastrawan di Badan Bahasa Jakarta. Itu terdengar sangat keren sekali, saya pun mempunyai keinginan untuk dapat menghadiri acara tersebut.  Tapi saya bingung bagaimana caranya saya dapat menghadiri acara tersebut. Saya berharap bapak dapat membantu saya supaya kelak saya dapat menghadiri acara tersebut.
Sebenarnya saya ini tidak begitu malas membaca. Setidaknya saya suka membaca novel. Meskipun untuk membaca koran, majalah, atau buku materi untuk perkuliahan saya memang jarang membacanya. Entah mengapa saya lebih menyukai membaca novel dari pada membaca koran, buku materi, majalah, atau sejenisnya. Dalam perkuliahan ini saya sudah membeli beberapa novel, diantaranya: dilan 1, dilan 2, 5 cm, ronggeng dukuh paruk, saman, dan masih ada beberapa novel yang kalau saya sebutkan akan menyita waktu saya. Meskipun ada beberapa novel yang belum saya baca, yang terpenting saya bisa membeli novel itu terlebih dahulu. Bukan maksud saya malas berterus-terang untuk bicara, jika saya malas berterus-terang untuk bicara lantas yang selama ini saya perbincangkan kepada keluarga, teman-teman, dan lain-lain apakah itu masih dianggap malas bicara? Itu kan sama saja kalau berbincang-bincang termasuk juga berbicara. Mungkin yang di maksud bapak adalah malas berterus-terang untuk bicara dalam perkuliahan, kalau itu saya pernah menjawab pertanyaan bapak waktu perkuliahan, dan Alhamdulillah saya mendapat poin, kalau saya tidak menjawab pertanyaan bapak waktu perkuliahan berlangsung mungkin saya belum mendapat jawaban yang tepat atau sudah kedahuluan dengan teman saya.
Kalau menurut saya tidak ada mahasiswa yang menginginkan utuk pasif di dalam kelas. Semua pasti ingin aktif di dalam kelas. Tapi ya tidak tahu mingkin mereka yang pasif belum mempunyai mental untuk memberanikan diri untuk berbicara. Semoga Allah lekas memberikan keberanian kepada mereka.
Di dalam surat ini bapak sudah berapa kali menulis kata maaf ya? Saya rasa kok setiap paragraf bapak menuliskan kata maaf. Apakah ketika bapak dalam membuat surat tersebut bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri? Entahlah itu semua yamg tahu hanya bapak. Bapak tidak perlu minta maaf ketika bapak menyuruh kami membaca buku, asalkan buku tersebut sudah kami miliki. Sebenarnya kami tidak keberatan untuk disuruh membeli buku, asalkan pada saat itu kami masih memiliki uang, pasti kami akan membeli buku tersebut. Apalagi kalau disuruh membeli novel pasti saya langsung beli novel itu ya tapi dengan satu syarat jika uang saya masih cukup untuk membeli novel tersebut.
Bapak Naka, dosen yang saya hormati, kalau hidup ini terlalu santai apakah semua akan baik-baik saja? Saya tau bapak itu tipe orang yang santai, tapi tidak semua orang bisa seperti bapak. Tolong ajarkan kepada kami bagaimana menjalani hidup yang santai tapi bisa sukses, bisa mendapatkan uang, sekali lagi ajarkan kepada kami pak. Bapak tolong jawab dengan jujur, apakah surat ini bersifat personal? Bapak menulis kalau surat ini bersifat personal, akan tetapi semua mahasiswa bapak mendapat surat ini. Entahlah pak, saya bingung dengan semua ini.
Bapak bertanya kenapa saya bertahan hidup? Ya karena saya memang harus hidup, dan masih hidup, kalau saya meninggal itu namanya saya sudah tidak bertahan hidup pak. Kalau saya sudah tidak dapat bertahan hidup dan mengakhiri hidup saya dengan mendahului kehendak Allah nanti saya berdosa dong pak. Ya semua itu menunggu waktunya. Lalu bapak bertanya lagi, apa motivasi saya harus kuliah? Karena saya ingin membahagiakan orang tua saya, ingin menjadi orang yang berpendidikan, ya tentunya banyak motivasi saya harus kuliah, itu semua tidak dapat dijelaskan satu-persaatu.
Dosenku yang insyaallah sedang berbahagia. Bimbinglah kami selalu. Kami hanya mahasiswa yang membutuhkan bibinganmu. Pak Naka, saya rasa balasan surat ini sudah cukup. Saya lelah harus merangkai kata-kata sebanyak ini. Jika saya lanjutkan bisa-bisa berat badan saya turun 10kg. Sekali lagi bimbing kami selalu ya pak. Saya rasa cukup untuk balasan surat ini. Sekian dan sampai jumpa di pertemuan waktu perkuliahan ya pa. Selamat siang. Salam (PMM).

Esai Pementasan Jaka Tarub



Nama              : PrananingMeisya M.

NPM               : 15410226

KELAS          : 3E/ PBSI

Pementasan Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah

Oleh Prananing Meisya Mayadah


Semarang- Universitas PGRI Semarang pada hari Selasa, 4 Oktober 2016 mengadakan pementasan drama dan monolong yang diadakan oleh UKM teater gemma Universitas PGRI Semarang yang berjudul “Pementasan Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah” sangat menyita perhatian Mahasiswa Upgris. Tidak hanya mahasiswa Upgris yang tertarik  dengan pementasan tersebut akan tetapi pementasan tersebut juga menyita di kalangan siswa-siswi SMA. Salah satu SMA yang hadir dalam pementasan tersebut adalah SMA 1 Grising. Pementasan tersebut diadakan dua season, season peratama diselenggarakan pukul 15.00 WIB, dan season kedua dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB. Setiap season selalu dipenuhi oleh mahasiswa maupun penonton yang ingin melihat pementasan tersebut, hingga saat hendak memasuki ruangan pementasan harus berdesak-desakan terlebih dahulu. Ketika semua penonton sudah memasuki ruangan dan pementasan dimulai semua berjalan dengan teratur. Penonton sangat terhibur dengan pementasan tersebut. Setiap seasionnya terdapat dua penampilan. Penampilan pertama yaitu pementasan drama Jaka Tarub, dan penampilan yang ke dua yaitu monolog Balada Sumarah.
Pada penampilan pertama menceritakan Jaka Tarub.Pada penampilan  ini diceritakan seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub mencuri selendang bidadari yang bernama NawangWulan dan Nawang Wulan tersebut tidak dapat kembali kekakayangan. Sehingga JakaTarub dan Nawang Wulan menikah dan dikaruniyai seorang putrid cantik yang bernama Nawangsih.Dalam pementasan tersebut tata kejadiannya sangat menarik, karena cerita awalnya dimulai dengan Jaka Tarub yang sudah tua dan ia bermimpi akan kehilangan putrid semata wayangnya yang bernama Nawangsih itu, lalu Nawangsih keluar dan menanyakan kepada sang ayah “adaapa ayah? Ayah mimpi apa?”, Jaka Tarub tidak dapat menjawab pertanyaan sang putri. Dalam cerita Jaka Tarub ini menggunakan alurmundur. Pada saat Jaka Tarub tidur dan mimpi penonton dibuat penasaran oleh mimpi Jaka Tarub. Kemudian  penataan lampu ketika Jaja Tarub di masa tua dia tertidur dengan sinar bulan purnama, dan tiba-tiba lampu yang menyoroti Jaka Tarub redup.Ketika cahaya lampu nyala kembali kejadian sudah berubah menjadi Jaka Tarub di masa muda, di situ diceritakan masa muda Jaka   Tarub dan kejadian bagaimana Jaka Tarub bertemu dengan Nawang Wulan.
Penataan dekorasi sudah sangat memadai. Untuk soal makeup kurang mendukung karena untuk makeup pemain pria itu  terlalu berlebihan, dan untuk makeup perempuan (bidadari) tidak sesuai dengan zamannya, itu terlalu berlebihan. Dalam pementasan tersebut tidak diceritakan kesaktian apa saja yang dimiliki JakaTarub, menurut https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub disitu dejalaskan bahwa JakaTarub memiliki kesaktian, alangkah lebih baiknya jika dalam pementasan tersebut disertakaan kesaktian yang dimiliki JakaTarub sehingga cerita  tersebut lebih menarik. Pada saat diceritakannya ketujuh bidadari itu turun kebumi untuk mandi di telaga tiba-tiba  salah satu bidadari itu terjatuh dari tangga yang dibuat seolah-olah ketujuh bidadari itu sedang terbang. Pada saat salah satu bidadari itu jatuh dari tangga keenam bidadari itu langsung tanggap menolong pemain bidadari yang terjatuh, kejadian tersebut terkesana lami dan tidak seperti dibuat-buat, entah kejadian tersebut sudah termasuk dalam scenario atau memang murni kecelakaan. Semua penonton terpukau sekaligus bingung apakah kejadian itubenar-benar jatuh atau sudah masuk dalam scenario.
Ketika Jaka Tarub sudah menikah dengan Nawang Wulan, untuk menyambung cerita ketika Nawang Wulan hamil, di  tengah-tengah penampilan di isi oleh dagelan pemerannya bernama tomo dan topo. Kedua laki-laki tersebut melakukan dagelan dengan cerita ingin mencalon sebagai kepala desa. Penonton sangat terhibur dengan penampilan Tomo dan Topo. Penampilan mereka berdua membuat suasana di ruangan semakin riang dan riuh oleh suara tawa para penonton. Sebetulnya kehadiran Topo dan Tomo tidaklah sangat penting bagi cerita Jaka Tarub, karena tidak ada kaitannya dengan cerita Jaka Tarub. Akan tetapi kehadiran Topo dan Tomo dapat menjembatani berapa tahun Jaka Tarub dan Nawang Wulan menikah sehingga NawangWulan sudah hamil, seperti contoh di televise untuk mempersingkat waktu biasanya ada teks yang bertuliskan “lima tahunkemudian” dalampementasantersebutteks yang bertuliskan “lima tahunkemudian” digantikanolehperan Topo danTomo, sehingga penonton tidak bingung di karenakan tiba-tiba Nawang Wulan hamil.
Dalam cerita tersebut juga diceritakan kalau Jaka Tarub melihat istrinya memasak nasi hanya menggunakan seikat padi, tetapi menurut https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub diceritakan kalau Nawang Wulan memasak dengan satu biji beras, ini masih belum jelas kebenarannya. Ketika Jaka Tarub menggendong anaknya cara menggendong anaknya itu tidak tepat karena dalam kejadiannya tata cara menggendong anak yang dilakukan Jaka Tarub maka Anak tersebut akan terjatuh dan merasa tidak nyaman ketika digendong.
Dalam pementasan tersebut juga tidak dijelaskan sampai akhirhanya diceritakan sampai Nawang Wulan kemabali kekayangan. Menurut https://id.m.wikipedia.org/wiki/Legenda_Jaka_Tarub diceritakan sampai Nawangsih menikah.
Sebenarnya pementasan tersebut sudah berjalan dengan baik, akan tetapi ada bagian-bagian yang kurang dan harus diperbaiki. Tata lampu menyesuaikan dengan penampilan pemainnya.
Penampilan kedua yaitu monolog Balada Sumarah. Cerita dimulai dengan tokoh yang bernama Sumarah di siding di Negara Arab. Pada saat itu penonton tidak tahu permasalahan yang dialami oleh tokoh Sumarah. Kejadian tersebut samahalnya dengan pementasan Jaka Tarub yaitu sama-sama menggunakan alur mundur. Lalu diceritakan kalau Sumarah adalah anak dari seseorang yang menjual gula di koperasi PKI. Akan tetapi teman-teman dan tetangga Sumarah menganggapnya kalau dia adalah anak dari seorang PKI yang dibenci oleh masyarakat. Sumarah sedih karena ia selalu dihubungkan dengan seorang anak PKI. Untuk menghilangkan nama baiknya ia pergi keluar negeri dan dia menjadi TKW yang tidak pernah dibayar oleh majikannya dan dia diperkosa oleh majikannya. Sumarah yang kesal akhirnya membunuh majikannya dan dihukum mati. Dalam cerita tersebut Sumarah tidak membuntuhkan pembelaan siapapun karena dia yakin tidak ada yang membelanya bahkan Negara asalnya pun tidak mau membelanya.Pemeran  Sumarah sangat baik dalam memainkan perannya. Penampilan sangat memukau penontonnya. Tata lampu maupun dekorasi sudah mendukung berjalannya monolog. Ekspresi yang ditimbulkan sesuai dengan yang diperankannya, pemainsudahtepatdalammenempatkanekspresidangesturtubuhnya.
Jadi dengan adanya pementasan tersebut mengingatkan kembali adanya sejarah yang sangat terkenal di Negaraini. Sebagai masyarakat Indonesia khususnya masyarakat sekitar harus lebih memperkenalkan lagi cerita-cerita legenda di sekitarkita.Suapaya kelak generasi penerus tetap mengetahui legenda-legenda di sekitarnya.