Senin, 05 September 2016

BELAJAR BAHASA INDONESIA YANG DIREMEHKAN

BELAJAR BAHASA INDONESIA YANG DIREMEHKAN

Pada dasarnya di dunia ini seluruh orang menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Jenis-jenis bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi di dunuia ini beraneka ragam bahasanya. Untuk di Indonesia sendiri setiap daerah memiliki bahasa yang berbeda-beda. Negera kita terbentang dari sabang sampai merauke yang terdiri dari berbagai macam suku, adat, budaya, dan termasuk cara berbahasa. Contohnya di daerah Jawa logat bahasanya lemah lembut sedangkan di daerah Sumatera atau Kalimantan logat bahasanya bernada tinggi. Meski dalam serumpun penggunaan bahasanya berbeda-beda. Misalnya di daerah Padang menggunakan bahasa minang untuk berkomunikasi, sedangkan daerah Jawa menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi. Hal ini akan menjadi kendala apabila di daerah Jawa terdapat orang-orang yang berasal dari Padang yang tidak dapat berbahasa Jawa dan hanya dapat berbasaha daerah Padang, begitu pula sebaliknya. Maka dibutuhkan bahasa yang dapat menjembatani masyarakat untuk berkomunikasi dan bahasa tersebut adalah Bahasa Indonesia.
Hal di atas menandakan bahwa di Indonesia memiliki berbagai macam bahasa daerah. Di Indonesia kaya akan berbagai macam budaya dan bahasa daerah. Kita sebagai warga Negara Indonesia harus melestarikan bahasa yang ada di daerah masing-masing. Meskipun berbeda-beda suku dan bahasa tetapi kita sebagai warga Negara Indonesia memiliki satu bahasa yang sama yaitu Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan ciri khas Bangsa Indonesia dan merupakan bahasa kenegaraan yang digunakan dari sabang sampai merauke. Maka setiap warga Negara Indonesia di wajibkan untuk bisa berbahasa Indonesia.
Akan tetapi belajar Bahasa Indonesia di Negara Indonesia sendiri sangat di remehkan. Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai ciri khas bangsa dan sebagai bahasa persatuan belum mendapat tempat di hati warga Negara Indonesia, khususnya di kalangan penerus bangsa ini. Terkhusus bagi pelajar di negeri ini, mereka tidak peduli akan pentingnya belajar Bahasa Indonesia. Mereka justru lebih menyukai belajar bahasa asing daripada belajar Bahasa Indonesia. Menurutnya belajar Bahasa Indonesia sangat kuno sedangkan belajar bahasa asing menurut meraka gaul atau biar tidak di sebut ketinggalan zaman. Mereka lebih mendalami belajar bahasa asing, sampai kata-kata yang kurang begitu penting mereka cari tahu arti kata-kata tersebut. Mereka giat mempelajari bahasa asing, bahkan mereka menggunakan bahasa asing  ketika mereka berada di rumah atau di lingkungan keluarga, seakan-akan keluarga mereka tidak warga Negara Indonesia. Tidak hanya pelajar yang giat mempelajari bahasa asing, orang tua pun juga giat mempelajari bahasa asing. Anak yang masih kecil pun diajarkan untuk mengucapkan bahasa asing. Para orang tua gengsi jika mengajarkan kepada anaknya bahasa daerah. Sesungguhnya belajar bahasa asing tidak dilarang akan tetapi alangkah lebih baiknya jika kita mempelajari bahasa daerah kita sendiri atau bahasa negara kita.
Kembali lagi di kalangan pelajar, mereka menganggap belajar Bahasa Indonesia itu mudah jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Mereka menganggap belajar Bahasa Indonesia hanya membaca teks yang panjang dan mengisi soal-soal yang jawabannya ada di dalam teks tersebut. Belajar Bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan belajar mata pelajaran yang lainnya sangat berbeda, misalnya mata pelajaran IPA, matematika, IPS, bahasa inggris dan lain sebagainya, pelajaran tersebut membutuhkan waktu berpikir yang lumayan lama dan mereka menganggap mata pelajaran tersebut sangat sulit jika dibandingkan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Meski mereka menganggap belajar Bahasa Indonesia mudah jika dibandingkan dengan mata pelajaran IPA, matematika, dan IPS pada kenyataannya nilai Bahasa Indonesia mereka lebih rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran IPA, matematika, bahasa inggris dan IPS. Bahkan nilai bahasa asing mereka pun lebih baik daripada nilai Bahasa Indonesia. Hal ini menjadi pertanyaan yang mendalam bagi guru Bahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia selalu bertanya-tanya “ Apakah cara penyajiannya yang salah atau memang murud-murid yang menyepelekan Bahasa Indonesia? ”. Pertanyaan  tersebut bisa saja dua-duanya benar, atau dua-duanya bisa saja salah. Bisa saja guru Bahasa Indonesia tersebut pada saat mengajar tidak dapat menarik perhatian murid-muridnya sehingga memungkinkan murid-muridnya jenuh dengan materi yang disampaikan oleh guru tersebut. Menurut pengalaman yang didapat biasanya pada saat mata pelajaran Bahasa Indonesia murid-murid akan merasa jenuh, ngantuk, bosan, dan lain sebagianya. Hal tersebut disebabkan oleh ketidak aktifan di dalam kelas tersebut. Biasanya guru mata pelajaran Bahasa Indonesia hanya membahas materi dan membahasa cerita yang ada di dalam buku panduan.
Selain itu pengalaman saya yang lainnya adalah ketika hendak ulangan harian, UTS, UAS, dan UN murid-murid biasanya hanya akan mempelajari mata pelajaran yang mereka anggap sulit. Mata pelajaran tersebut baiasanya IPA, IPS, bahasa inggris, dan matematika. Mereka tidak akan serius belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan mereka tidak mempelajari mata pelajaran Bahasa Indonesia, karena mereka bingung meteri-materi yang akan di pelajari dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
            Bahkan ketika hendak ulangan harian, UTS, UAS, dan UN biasanya murid-murid hanya memfotokopi mata pelajaran IPA, IPS, bahasa inggris, dan matematika. Mereka tidak memperdulikan mata pelajaran bahahasa Indonesia.
            Bahkan ketika mereka hendak mengikuti les privat atau les bimbel mereka selalu mengambil les mata pelajaran IPA, IPS, bahasa inggris, dan matematika. Mereka tidak pernah menyebutkan ingin les mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan jika kita les bimbel biasanya kita di wajibkan untuk mengikuti les mata pelajaran bahasa inggris, bahasa indonesia, IPA, IPS, dan matematika. Akan tetapi biasanya jika les mata pelajaran bahasa indonesia murid-murid yang mengikuti les bimbel tidak pernah hadir atau jarang hadir dalam les mata pelajaran bahasa indonesia. Mereka bena-benar sangat meremehkan mata pelajaran bahasa indonesia. Padahal nilai bahasa indonesia mereka di bawah rata-rata jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Berikut contoh nilai mata pelajaran bahasa indonesia dengan mata pelajaran yang lainnya.
Mata pelajaran biologi nilainya 80                                    Mata pelajaran bahasa inggris 85
                           
Mata pelajaran geografi 9,3                              Mata pelajaran bahasa indonesia 6,25
                             
Perbedaan nilai yang sangat jauh menurut contoh di atas sangat mengkhawatirkan. Karena jika tidak segera di atasi generasi muda akan mudah meninggalkan bahasa bangsa ini. Belum lagi cara menulis dan bicara mereka belum sesuai dengan kaidah EYD, kamus besar bahasa indonesia, dan kamus bahasa baku bahasa indonesia.
Contoh saja dalam pengucapan kata “tidak” mereka sering mengucapkannya dengan kata gak, tak, dan lain sebagainya, padahal kata baku yang benar yaitu “tidak”. Contoh yang lainnya yaitu kata “izin, pikir, paham, dan lain sebagainya” mereka sering mengucapkannya dengan kata “ijin, fikir, faham, dan lain sebagainya” merka tidak pernah tau bahkan tidak mau tahu jika kata yang sering mereka ucapkan tersebut salah.
Jika permasalahan di atas tidak segea diselesaikan maka mereka akan terus mengucapkan kata-kata yang salah. Solusinya adalah guru jika memberi materi di dalam kelas harus membuat kelas tersebut aktif. Buatlah murid-murid selalu ingin bertanya tentang materi yang disampaikan oleh guru tersebut. Guru juga harus menyampaikan materinya dengan semenarik mungkin, suapaya murid-murid mau memperhatikan dengan serius. Tidak lupa guru harus selalu mengingatkan kepada murid-murid supaya selalu membaca buku panduan seperti EYD, kamus besar bahasa indonesia, kamus bahasa baku bahasa indonesia, dengan begitu penerus bangsa tidak lagi meremehkan bahasa negara kita yaitu Bahasa Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar